Resume Kajian Posku 19-05-2018

*AYAH, KAULAH PENYEBABNYA*

_*Ustdaz Jauhar Hidayat, Lc*_
(Pj.Syar’i Kuttab Al-Fatih Jakarta Timur)

*Kajian rutin POSKU dan Buka Puasa Bersama Kuttab Al-Fatih Jakarta Timur*

_Masjid Nauroh Abdurrahman Cipayung, Sabtu, 3 Ramadhan 1439 H / 19 Mei 2018_

Tema di atas memang terkesan keras dan pedas. Tapi sesungguhnya kalimat itu merupakan kutipan berharga dari nasihat ulama besar yang hidup di Abad 7 H, yaitu *Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah.*

Mari kita simak petikan lengkapnya berikut:

๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”

โ€œBetapa banyak orang yang mencelakakan anaknyaโ€”belahan hatinyaโ€”di dunia dan di akhirat
karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka.

Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya.

Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian.

Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya.

Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat.

Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari ORANG TUA.โ€

_(Tuhfatul Maudud hal. 351)._

๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”๐Ÿ”

Lebuh rinci Beliau juga menjelaskan faktor penyebabnya;

โ€œMayoritas anak menjadi rusak dengan 3 sebab yang bersumber dari orang tua,

Penyebabnya antara lain :

1โƒฃ(ุงู„ุฅู‡ู…ุงู„) kurang perhatian dari orangtua

2โƒฃ(ุชุฑูƒ ุงู„ุชุฃุฏูŠุจ) tidak mendidiknya sehingga tidak beradab

Karena ุชุฃุฏูŠุจ itu bahasa halusnya hukuman.
Dan ketika menghukum harus punya tujuan untuk memperbaiki adab

3โƒฃ(ุงู„ุฅุนุงู†ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุดู‡ูˆุงุช) memanjakannya dengan hal2 yg memuaskan keinginannya

Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya,

si anak menjawab,

*โ€˜Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia.*

*Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjutโ€™.โ€*

_(Tuhfatul Maudud hal. 337)._

_Bagaimana … Para Ayah sudah faham tentang ini ?_

Betapa pun pahit kita harus terima pesan kebaikan ini. Dan inilah faktanya. Sangat lugas dan tepat sasaran.

Banyak diantara kita mengira telah berbuat baik dengan menyediakan berbagai macam fasilitas dan gadget yang menyenangkan dan memudahkan bagi buah hatinya. Tapi tanpa disadarinya itulah jeratan yang kemudian melahirkan sesal belakangan.

Banyak anak-anak yang kini sulit lepas dari aneka permainan dan gadget yang menghasilkan dampak buruk bagi perkembangan jiwa dan fisiknya. Adabnya jadi rusak.

Kalau dulu, anak-anak cukup puas bermain di tempat terbuka, menyatu bersama alam, keluar keringat, biarpun badan kotor, dan tentunya bisa bersosialisasi dengan anak yang lain. Nyata dan natural. Ini menjadikan mereka pribadi yang kokoh, mandiri dan hangat.

Kini, layar kaca (baik HP, PS, TV, Tablet, Laptop dll) menjadi “teman” setia bagi anak-anak. Akibatnya kita sudah saksikan bersama, bahkan sebagian kita sudah alami. Tragis.

Ironinya, ada sesal dibalik “kesuksesan” kita memberikan gadget/fasilitas yang “menyenangkan” bagi anak-anak. Padahal, kenapa anak-anak begitu, ‘kan berasal dari harta yang kita berikan bagi mereka. Tanpa itu, mereka tak punya apa-apa.

Karena kesalahpahaman dan ketiadaan ilmu, maka banyak Ayah mengira telah memuliakan tetapi ternyata menghinakannya. Ayah mengira apa yang diberikannya sebagai kasih sayang ternyata justru mendhzoliminya. Hilang kesempatan berbuat baik di dunia dan akhirat. Jadi benarlah bahwa sumber kerusakan itu dari Ayah.
*Ayah, Kaulah Penyebabnya.*

Kita juga menyaksikan upaya pendidikan banyak kandas (gagal) justru karena ketersediaan fasilitas. Iya, fasilitas yang memanjakan dan menghilangkan potensi kreatifitas dan kesungguhan berpayah-payah meraih tujuan. Persis cocok dengan pesan Imam Syafi’i:

๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š
“Barangsiapa yang tidak merasakan pahitnya cari ilmu meskipun sedikit saja. maka ia akan menyesal lama dalam hidupnya.”
โณโณโณโณโณโณโณโณโณโณ

Imam asy-Syafiโ€™i menuturkan kisah hidupnya berlelah-lelah mencari ilmu,

โ€œKetika aku telah menghafalkan Alquran (30 juz), aku masuk ke masjid. Aku mulai duduk di majelisnya para ulama. Mendengarkan hadits atau pembahasan-pembahasan lainnya. Aku pun menghafalkannya juga. Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa ia berikan padaku untuk membeli kertas (buku untuk mencatat). Jika kulihat bongkahan tulang yang lebar, kupungut lalu kujadikan tempat menulis. Apabila sudah penuh, kuletakkan di tempayan yang kami miliki.โ€ (Ibnu al-Jauzi dalam Shifatu Shafwah, 2/249 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 51/182).

Inilah ironi masa kini, yakni harapkan generasi gemilang tapi salah langkah. Beragam kemudahan hasil kemajuan teknologi tidak diikuti meningkatnya kualitas hasil pendidikan.

Menyikapi anak yang kecanduan gadget, terkadang kita berulang kali kembali kalah karena tidak tega anak terus merengek. Yakinlah, itu bukan cara memuliakan tapi malah menghinakannya.

โ™ปKita bisa bercermin dengan aktivitas anak-anak semasa Nabi. Ibnu Abbas _Radhiyallahu ‘anhu,_ misalnya. Saat itu usianya sekitar 12 tahun. Sepenggal waktu yang meninggalkan kesan kuat seumur hidup.

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ู’ุนูŽุจูŽู‘ุงุณู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจูŽู‘ุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽุŒ ูƒูู†ู’ุชู ุฎูŽู„ู’ููŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุŒ ูŠูŽุง ุบูู„ุงูŽู…ู ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูุนูŽู„ูู‘ู…ููƒูŽ ูƒูŽู„ูู…ูŽุงุชูุŒ ุงุญู’ููŽุธู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูŠูŽุญู’ููŽุธู’ูƒูŽุŒ ุงุญู’ููŽุธู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุชูŽุฌูุฏู’ู‡ู ุชูุฌูŽุงู‡ูŽูƒูŽุŒ ุฅูุฐูŽุง ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูŽ ููŽุงุณู’ุฃูŽู„ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงุณู’ุชูŽุนูŽู†ู’ุชูŽ ููŽุงุณู’ุชูŽุนูู†ู’ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู’ู„ุฃูู…ูŽู‘ุฉูŽ ู„ูŽูˆู’ ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ููŽุนููˆูƒูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ููŽุนููˆูƒูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุชูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽูƒูŽุŒ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุถูุฑูู‘ูˆูƒูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุถูุฑูู‘ูˆูƒูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุชูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽุŒ ุฑูููุนูŽุชู’ ุงู’ู„ุฃูŽู‚ู’ู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฌูŽููŽู‘ุชู’ ุงู„ุตูู‘ุญููู

( ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ)

Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas RA berkata,

โ€˜Saya pernah berada di belakang (duduk membonceng) Rasulullah SAW pada suatu hari, beliau bersabda,
โ€˜Wahai anak, saya hendak mengajarimu beberapa kalimat;

Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu;

jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya bersamamu;

jika engkau meminta, mintalah kepada Allah;

jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah.

Ketahuilah, jika umat manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu, dan

jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.

Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.โ€™

(HR. Turmudzi No.2440 dan HR Ahmad No.2537)

Perhatikanlah. Saat memboncengkan anak mengantar (dan menjemput) ke Kuttab bisa menjadi momentum berharga untuk berikan nasihat seperti dicontohkan Rasulullah bersama Ibnu Abbas di atas.
Sederhana dan spontan.

Nah, disinilah tergambar bagaimana terjalin kedekatan Ayah dan anaknya.

๐Ÿ›ต๐Ÿš—๐Ÿš๐Ÿ๐Ÿš•๐Ÿšฒ๐Ÿ›ต๐Ÿš—๐Ÿš๐Ÿ๐Ÿš•๐Ÿšฒ
Sudahkah para Ayah manfaatkan momentum ini? Atau jangan-jangan kita serahkan tugas mulia ini pada orang lain yang justru bukan keluarga kita (orang asing).
โ‰โ‰โ‰โ‰โ‰โ‰โ‰โ‰โ‰โ‰

ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ู„ูŽุงุฏููƒูู…ู’ ููุชู’ู†ูŽุฉูŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑูŒ ุนูŽุธููŠู…ูŒ

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

-Surat Al-Anfal, Ayat 28

_Wallahu A’lam bishowwab_

Semoga bermanfaat

_Resume kajian ditulis oleh Abu Adzka Muhammad (Q.1A KAF Jakarta Timur)._

Disclaimer :
*_”Jika ada kesalahan pada tulisan di atas itu semata-mata karena kelemahan penulis, bukan dari Ustadz dan materi kajian. Semoga Allรขh dan pembaca memaafkan penulis.”_*

The best gratitude for https://justdomyhomework.com/ us is your coming back to work with us again.